banner 728x90
Sejarah

Klenteng Sumber Naga dan Jejak Sejarah Tionghoa di Probolinggo

×

Klenteng Sumber Naga dan Jejak Sejarah Tionghoa di Probolinggo

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi sejarah komunitas Tionghoa di Probolinggo./ Foto: bolinggo.co

BOLINGGODOTCO,- Bagi banyak orang, klenteng kerap dipahami hanya sebagai tempat ibadah umat Tionghoa. Padahal, bangunan seperti Klenteng Sumber Naga di Probolinggo menyimpan cerita panjang tentang perjalanan kota dan jejak perjumpaan budaya yang sering luput dari perhatian.

Klenteng Sumber Naga terletak di Mangunharjo, Kecamatan Mayangan, kawasan pelabuhan dan perdagangan sejak masa kolonial. Letaknya yang strategis membuat Probolinggo tumbuh sebagai kota pesisir yang terbuka bagi arus manusia dan barang, tempat berbagai komunitas datang dan menetap.

Scrol Kebawah Untuk Baca
banner 728x90
ADVERTORIMENT

Komunitas Tionghoa membangun kehidupan di Probolinggo melalui jaringan perdagangan pesisir. Dari sekadar singgah, mereka kemudian menetap dan berinteraksi dengan masyarakat lokal, membentuk kehidupan sosial kota lewat perjumpaan lintas budaya.

Klenteng Sumber Naga menjadi penanda penting sejarah komunitas Tionghoa di Probolinggo. Selain sebagai tempat ibadah Tri Dharma, klenteng ini menjaga identitas dan mewariskan nilai budaya lintas generasi, berdiri sebagai bagian hidup dari kota, bukan sekadar bangunan ritual.

Baca Juga:  Probolinggo dan Karesidenan Besuki: Sejarah yang Jarang Dibicarakan

Pada masa lalu, klenteng juga berfungsi sebagai ruang sosial. Selain tempat sembahyang, ia menjadi ruang berkumpul, bermusyawarah, dan memperkuat solidaritas, menjadikannya pusat kebersamaan yang menyatu dengan kehidupan masyarakat sekitar.

Dalam sejarah ekonomi Probolinggo, komunitas Tionghoa berperan penting dalam perdagangan dan distribusi hasil bumi. Relasi yang terbangun memang tidak selalu sederhana, tetapi menunjukkan interaksi sosial yang intens yang membentuk dinamika kota pelabuhan ini.

Sayangnya, jejak sejarah ini kerap terpinggirkan. Klenteng sering dipandang sebatas bangunan religius, padahal dari Klenteng Sumber Naga kita bisa melihat Probolinggo tumbuh dari keberagaman, bukan dari satu identitas tunggal.

Membicarakan Klenteng Sumber Naga berarti membuka refleksi sejarah lokal yang hidup dalam bangunan dan keseharian. Ia mengingatkan bahwa keberagaman telah lama menjadi denyut Probolinggo, dan merawatnya berarti menjaga akar kota tetap hidup.***