JAKARTA,- Tekanan terhadap nilai tukar rupiah kembali meningkat. Mata uang Garuda tercatat menyentuh level terlemah sepanjang masa pada perdagangan Selasa (20/1/2026).
Di pasar spot, rupiah sempat melemah hingga Rp 16.997 per dolar Amerika Serikat (AS). Menjelang penutupan, rupiah berada di level Rp 16.956 per dolar AS, atau turun tipis Rp 1 dibandingkan hari sebelumnya.
Meski penurunan harian terlihat terbatas, tren pelemahan rupiah cukup signifikan. Sejak akhir 2025, rupiah spot tercatat telah melemah sekitar 1,65%.
Tekanan lebih terasa pada kurs referensi Bank Indonesia. Kurs Jisdor tercatat melemah Rp 46 atau 0,27% ke posisi Rp 16.981 per dolar AS.
Level ini melampaui catatan terburuk saat krisis moneter 1998 yang berada di kisaran Rp 16.650 per dolar AS. Rupiah juga lebih lemah dibandingkan periode awal pandemi Covid-19 pada Maret 2020.
Pelemahan rupiah telah berlangsung sejak akhir tahun lalu. Salah satu pemicunya adalah kekhawatiran pasar terhadap defisit anggaran yang berpotensi mendekati batas 3% dari produk domestik bruto (PDB).
Bahkan, Citigroup memproyeksikan defisit anggaran tahun ini bisa menembus 3,5%. Proyeksi tersebut menambah tekanan terhadap kepercayaan pasar.
Selain faktor fiskal, pelaku pasar juga mencermati kemungkinan munculnya kebijakan pemerintah yang di luar ekspektasi. Kebijakan semacam itu dinilai berisiko menambah beban anggaran negara.
Di tengah kondisi tersebut, Bank Indonesia menegaskan komitmennya. Otoritas moneter berjanji terus menjaga stabilitas nilai tukar dan sistem keuangan.
Pelemahan mata uang tidak hanya terjadi di Indonesia. Sejumlah mata uang Asia juga mengalami tekanan terhadap dolar AS.
Peso Filipina tercatat melemah ke level terendahnya. Rupee India mendekati rekor terlemah, meski bank sentral India dilaporkan telah melakukan intervensi dengan menjual dolar di pasar.
Pada sore hari ini, peso Filipina melemah 0,01%. Rupee India turun 0,05%.
Tekanan paling dalam dialami won Korea Selatan yang melemah 0,27%. Dolar Taiwan turun 0,14%, sedangkan dolar Hong Kong melemah 0,02%.
Di sisi lain, beberapa mata uang Asia masih mampu menguat. Baht Thailand mencatat penguatan terbesar sebesar 0,51%.
Yen Jepang menguat 0,28%. Dolar Singapura naik 0,19%, yuan China 0,07%, dan ringgit Malaysia 0,03%.
Sementara itu, indeks dolar AS justru melemah tajam. Indeks dolar turun 0,87% ke level 98,53.
Tekanan terhadap dolar AS dipengaruhi faktor geopolitik. Presiden AS Donald Trump dilaporkan masih melakukan negosiasi keras dengan negara-negara Eropa terkait isu Greenland, yang memicu volatilitas pasar keuangan global dalam jangka pendek.***
bolinggodotco merupakan media online yang menyajikan konten edukatif dan informatif.















