PROBOLINGGO,- Rentetan banjir yang melanda Kabupaten Probolinggo pada 17 Januari 2026 menimbulkan dampak serius pada infrastruktur penghubung antarwilayah. Sejumlah jembatan dilaporkan rusak hingga putus.
BPBD Kabupaten Probolinggo mencatat sedikitnya lima jembatan mengalami kerusakan berat dan terputus. Jembatan tersebut berada di Dusun Beji Desa Banjarsari, penghubung Desa Jangur-Sumberbendo, Desa Brani Wetan-Sumbersecang, Dusun Mendek Kulon Desa Sumberkramat, serta di Desa Kalianan.
Selain itu, banjir juga menyebabkan kerusakan pada tiga jembatan lainnya. Kerusakan terjadi pada jembatan penghubung Desa Ambulu-Sumberbendo, jembatan Desa Satreyan-Sumbersecang, serta jembatan di Desa Betektaman.
Melansir dari Antara Jatim, Selasa (20/1/2026). Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Probolinggo, Oemar Sjarief, mengatakan putusnya jembatan berdampak langsung pada aktivitas warga. Mobilitas masyarakat dan distribusi logistik menjadi terganggu.
“Kerusakan dan putusnya jembatan itu tentu berdampak besar terhadap mobilitas warga dan distribusi logistik. Kami terus berkoordinasi dengan perangkat daerah teknis untuk penanganan darurat dan rencana perbaikan,” ujarnya.
Menurut Oemar, saat ini BPBD masih melakukan koordinasi dengan organisasi perangkat daerah (OPD) serta pemerintah desa. Penentuan skala prioritas perbaikan menjadi fokus utama.
“Kami masih berkoordinasi dengan OPD dan desa terkait untuk menentukan jembatan mana yang harus diprioritaskan. Sambil menunggu perbaikan dari pemerintah, warga juga membangun jembatan darurat sementara,” jelasnya.
Ia juga mengingatkan masyarakat agar tetap meningkatkan kewaspadaan. Potensi cuaca ekstrem dinilai masih berpeluang terjadi dalam beberapa waktu ke depan.
“Saya mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem. BPBD akan terus siaga dan hadir bersama masyarakat dalam upaya penanganan maupun mitigasi bencana,” tegas Oemar.
BPBD Kabupaten Probolinggo memastikan pemantauan terus dilakukan. Langkah tersebut diharapkan dapat mempercepat penanganan sekaligus meminimalkan risiko lanjutan akibat bencana.***















