banner 728x90
Nasional

Investasi Rp123 Triliun, RDMP Balikpapan Jadi Andalan Ketahanan Energi

×

Investasi Rp123 Triliun, RDMP Balikpapan Jadi Andalan Ketahanan Energi

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi pekerja di Refinery Development Master Plan (RDMP)./ Foto: Pertamina

JAKARTA,- Pertamina menegaskan proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan menjadi bagian penting dalam memperkuat ketahanan energi nasional. Proyek ini dinilai sejalan dengan visi Astacita pemerintah.

Vice President Corporate Communication Pertamina, Muhammad Baron, mengatakan RDMP Balikpapan dirancang untuk mendorong kemandirian energi Indonesia. Proyek tersebut dikembangkan secara terintegrasi dari hulu hingga hilir.

Scrol Kebawah Untuk Baca
banner 728x90
ADVERTORIMENT

“RDMP Balikpapan mendukung ketahanan dan kemandirian energi nasional,” kata Baron dalam keterangan resmi, dikutip pada Minggu (11/1/2026).

Ia menjelaskan, kilang Balikpapan di Kalimantan Timur merupakan proyek strategis nasional. Seluruh infrastruktur dibangun saling terhubung, mulai dari pasokan bahan baku hingga proses produksi.

Menurut Baron, pengembangan terintegrasi ini bertujuan menjamin keandalan pasokan minyak mentah. Selain itu, operasional kilang diharapkan menjadi lebih efisien dan berkelanjutan.

RDMP Balikpapan juga disebut sebagai pilar transformasi infrastruktur energi nasional. Proyek ini disiapkan untuk menopang kebutuhan energi Indonesia dalam jangka panjang.

Dengan total investasi sekitar Rp123 triliun, proyek ini memodernisasi kilang eksisting. Kapasitas pengolahan minyak meningkat dengan hasil BBM yang lebih ramah lingkungan.

Baca Juga:  Sri Mulyani Imbau Masyarakat Laporkan SPT Pajak Tepat Waktu

Selain itu, RDMP Balikpapan mendorong hilirisasi industri petrokimia. Langkah ini sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional.

Pengembangan RDMP Balikpapan dilaksanakan dalam tiga lingkup utama. Ketiganya saling terintegrasi untuk menjamin kesiapan operasional kilang.

Lingkup pertama adalah tahap early work. Tahap ini mencakup 16 paket pekerjaan pendahuluan, termasuk persiapan lahan dan infrastruktur dasar.

Lingkup kedua mencakup pembangunan fasilitas utama kilang. Sebanyak 39 unit dikembangkan, terdiri dari unit proses baru dan fasilitas utilitas pendukung.

Pembangunan tersebut bertujuan meningkatkan fleksibilitas dan keandalan pengolahan minyak mentah. Kualitas BBM juga disesuaikan dengan standar yang lebih tinggi.

Lingkup ketiga berfokus pada penguatan infrastruktur penerimaan minyak mentah. Pertamina membangun dua tangki penyimpanan berkapasitas masing-masing 1 juta barel.

Pada tahap ini juga dibangun jaringan pipa darat dan lepas pantai serta fasilitas Single Point Mooring. Fasilitas tersebut mampu melayani kapal tanker hingga 320.000 DWT.

“Infrastruktur ini dirancang untuk meningkatkan efisiensi, keamanan, dan keandalan penerimaan minyak mentah,” pungkas Baron.***