banner 728x90
News

Hasil Panen Petani Jatim Positif, DPRD Minta Pemerintah Jangan Lengah

×

Hasil Panen Petani Jatim Positif, DPRD Minta Pemerintah Jangan Lengah

Sebarkan artikel ini
Petani memanen padi./ Foto: Antara Foto/Anis Efizudin

SURABAYA,- Kenaikan Nilai Tukar Petani (NTP) Jawa Timur sepanjang 2025 dinilai sebagai sinyal positif bagi sektor pertanian. Namun capaian tersebut diminta tidak berhenti sebagai angka statistik semata.

Anggota DPRD Jawa Timur, Wiwin Sumrambah, menegaskan pemerintah provinsi harus menyiapkan program berkelanjutan agar NTP petani tetap terjaga hingga 2026.

Scrol Kebawah Untuk Baca
banner 728x90
ADVERTORIMENT

Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat NTP Jawa Timur pada Desember 2025 mencapai 118,96. Angka ini menjadikan Jatim sebagai provinsi dengan kenaikan NTP tertinggi di Pulau Jawa, yakni sebesar 3,95 persen.

“Kenaikan ini menunjukkan hasil panen masa tanam ketiga 2025 berjalan sangat baik. Dampaknya langsung dirasakan petani,” ujar Wiwin di Surabaya, dikutip Minggu (11/1/2025).

Meski demikian, Wiwin mengingatkan agar pemerintah tidak lengah. Menurutnya, tanpa kebijakan pendukung yang tepat, NTP berpotensi kembali turun.

Ia menyoroti panen masa tanam pertama 2026 yang bertepatan dengan musim hujan. Penanganan pascapanen, khususnya pengeringan gabah, disebut menjadi faktor krusial menjaga harga jual.

Baca Juga:  Perjalanan Hidup Arumi Bachsin Dari Dunia Hiburan Hingga Menjadi Istri Wagub Jatim

“Jika kualitas gabah menurun, otomatis harga ikut turun dan NTP akan terdampak,” jelasnya.

Wiwin mendorong stabilisasi harga melalui penetapan harga minimum produk pertanian. Langkah ini dinilai penting untuk melindungi petani saat produksi melimpah.

Selain itu, pengolahan dan diversifikasi hasil pertanian perlu diperkuat. Produk olahan diyakini mampu meningkatkan nilai tambah dan pendapatan petani.

Dukungan pemasaran juga menjadi sorotan. Pemerintah diharapkan hadir membantu akses pasar agar hasil panen terserap secara optimal.

Tak hanya itu, kemudahan kredit pertanian dinilai perlu diperluas. Kredit murah dan mudah akan meningkatkan kapasitas usaha petani.

Wiwin juga mendorong pemberian subsidi serta program asuransi pertanian untuk menekan risiko produksi.

Di sisi lain, infrastruktur pertanian disebut masih menjadi pekerjaan rumah. Akses jalan tani, irigasi, dan gudang dinilai belum merata.

“Masih banyak wilayah pertanian yang infrastrukturnya kurang memadai. Ini berpengaruh besar pada hasil panen,” pungkasnya.***