BOLINGGODOTCO,- Setiap musim hujan datang, kita seperti sudah menebak apa yang akan terjadi. Banjir muncul di berbagai daerah, tanah longsor menutup akses jalan, dan warga kembali mengungsi.
Yang berubah bukan lagi pertanyaannya, tetapi skalanya. Dampaknya terasa semakin luas dan semakin sering terjadi.
Fenomena ini bukan sekadar kesan. Data menunjukkan bahwa bencana akibat faktor cuaca memang mendominasi kejadian nasional dalam beberapa tahun terakhir.
Menurut Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), sepanjang 2024 tercatat 3.472 kejadian bencana alam di Indonesia. Sekitar 99 persen di antaranya merupakan bencana hidrometeorologi seperti banjir dan tanah longsor.
Banjir saja terjadi lebih dari 1.400 kali dalam satu tahun. Artinya, hampir setiap hari ada wilayah di Indonesia yang terdampak luapan air akibat hujan deras.
Angka tersebut bukan sekadar statistik. Di baliknya ada kerugian ekonomi, aktivitas masyarakat yang terhenti, dan korban jiwa yang terus bertambah.
Pada akhir 2025, beberapa wilayah di Sumatra mencatat curah hujan lebih dari 400 milimeter per hari. Intensitas sebesar itu melampaui kapasitas banyak sistem drainase di berbagai kota.
Dampaknya sangat besar. Banjir dan longsor terjadi hampir bersamaan, menimbulkan korban jiwa dan memaksa jutaan orang menghadapi konsekuensinya.
Sebagai negara tropis, Indonesia memang memiliki curah hujan tinggi. Namun pola yang terjadi saat ini berbeda dari kondisi sebelumnya.
Hujan datang lebih ekstrem, lebih singkat, dan lebih merusak. Perubahan iklim global memperkuat intensitas tersebut, sementara kondisi lingkungan dalam negeri membuat dampaknya semakin berat.
Alih fungsi hutan, berkurangnya ruang terbuka hijau, dan pembangunan yang mengabaikan daya dukung lingkungan mengurangi kemampuan tanah menyerap air. Ketika hujan turun deras, air tidak lagi tertahan, melainkan langsung mengalir ke permukiman.
Tata ruang yang kurang adaptif terhadap risiko bencana membuat masyarakat tinggal di wilayah yang rawan. Ketika bencana datang, mereka menjadi pihak yang paling terdampak.
Sayangnya, respons yang muncul sering kali bersifat reaktif. Penanganan dilakukan setelah banjir terjadi, bukan melalui langkah pencegahan yang konsisten dan terencana.
Padahal data sudah cukup jelas menunjukkan tren peningkatan risiko. Tanpa pembenahan serius pada kebijakan lingkungan dan perencanaan pembangunan, pola ini akan terus berulang.
Krisis lingkungan hari ini bukan sekadar isu wacana. Ia adalah kenyataan yang terukur dan terjadi hampir setiap hari di berbagai daerah.
Jika 99 persen bencana berasal dari faktor cuaca, maka persoalannya bukan lagi sekadar hujan. Persoalannya adalah bagaimana kita mengelola lingkungan dan risiko yang sudah lama terlihat.
Mengabaikan data berarti membiarkan kerentanan itu tumbuh. Dan jika tidak ada perubahan yang nyata, maka bencana bukan lagi sekadar peristiwa alam melainkan akibat dari keputusan yang kita biarkan terus berlangsung***














